Jumat, 22 Februari 2013

ASK APOLOGIZE

CERPEN perdana nihh. Mohon pendapatnya :)

ASK APOLOGIZE  
Kejadian itu. Aku selalu menggigil berkeringat dingin. Aku tak sanggup mengingatnya. Aku takut. Aku merasa bersalah. "Oh tuhan, pasti semua orang menyalahkanku. Aku tak sanggup. Aku telah mencelakakan orang. Aku telah mencederainya. Apakah dia cacat dan menuntut balas? Apakah dia akan melaporkanku pada polisi?" aku berfantasi memikirkan akibat yang aku tanggung atas kejadian itu. Aku merasa dikejar-kejar oleh rasa bersalah. Tiba-tiba . . .
"Fuk, Ufuk. Kamu ada d dalam, Nak? Keluar sebentar. Ada yg mencari kamu." Ibuku memanggil.
'Hah?? Ada yang mencariku? Siapa? Polisikah?' fikirku dalam hati.
Keringat dingin semakin membanjiri seluruh tubuhku. Aku merasa tak sanggup untuk berdiri, apalagi berjalan untuk membukakan pintu.
Tok. . .tok. . .
“Ufuk sayang, kamu ada didalam kan? Ayo buka pintunya, keluarlah. Nanti tamunya kelamaan menunggu. Ayo keluar." pinta Ibuku sembari mengetuk pintu lagi.
Aku menguatkan diri untuk berjalan dan membukakan pintu.
Krekk, aku membuka pintu. Terlihat sosok Ibu dihadapanku. Aku benar-benar tak sanggup untuk menatap mata ibuku. Akhirnya aku memilih untuk menundukkan kepala daripada menatap mata ibuku.
"Kamu kenapa? Kok, keringetan banyak gini." ibuku membelai kepalaku. Menyeka keringatku. Ada yang mengalir dari tangan ibuku masuk kedalam tubuh. Seperti memberikan semangat dan rasa tenang dalam hatiku. 'Ibu, aku ingin bercerita kepadamu. Tapi aku tak sanggup aku terlalu takut.' tangisku dalam hati.
"Ayo Fuk, kita keruang tamu." ajak Ibuku. Dan akupun menurut.
Dari kejauhan aku mencoba melihat siapa yg bertamu. Tapi tak begitu jelas. Aku memang memiliki minus yg besar: 3 1/4. Hatiku berdebar tak menentu ketakutan pada tamu yg datang. Fikiranku kembali kacau.
Semakin kacau dan lebih kacau lagi. Kemudian. . .
"Selamat malam. Benar saudari Ufuk Utari?" tanya pria berseragam itu.
"Benar, pak Polisi. Ada perlu apa ya, pak?" aku mencoba terlihat setenang mungkin agar tak terlihat mencurigakan. Bukannya aku pengecut, tapi mungkin kalian juga akan melakukan hal yg seperti aku lakukan. Mungkin kalian juga tahu alasannya mengapa.
"Begini, mbak Ufuk, kami datang kesini untuk menanyakan beberapa hal kepada anda sebelum kami memutuskan tindakan yg tepat." jelas polisi yg berperawakan lebih tinggi dari satunya.
"Eu. . . Silakan!" walaupun mencoba tenang tetap ada ketakutan dalam perkataanku.
"Apakah benar E 1119 VW plat nomer sepeda motor anda?"
"Ya, benar."
"Apakah anda melintas di Jalan Raya Enggalwangi sekitar pukul 12.30??"
"Ya, benar."
"Apakah anda menabrak seseorang pada waktu tersebut?"
Deg. . . Jantungku serasa pecah. Semua mata di ruangtamu mengarah padaku. Kulihat ibuku, ada raut kecewa didalamnya. Dan sedari tadi aku telah menjawab pertanyaan dengan jujur. Berharap dengan jawaban jujur aku bisa lebih tenang. Sekarang haruskah aku berkata jujur lagi sedang aku merasa ketakutan?
'Bismillahi' mencoba menguatkan diri untuk berkata jujur.
"Ya, benar. Tapi waktu itu aku dalam keadaan terburu-buru. Dan tiba-tiba ada perempuan yang akan menyebrang. Aku benar-benar tidak melihatnya. Kejadiannyapun sangat cepat. Aku tak sempat menoleh sebab aku terlalu takut." tak terasa air mataku meleleh.
"Baiklah. Terimakasih atas penjelasannya. Sekarang, mari ikut kami ke kantor polisi."
kedua polisi itu langsung memegangiku dan membawaku keluar.
"Ibu, ibu, tolong aku. Aku gak mau ke kantor polisi. Pak polisi, tolong lepaskan aku. Tolong, tolong lepaskan aku." aku histeris. Lututku serasa lemas. Akupun mulai lelah. Entah karena menangis ataupun karena otakku terlalu lelah bekerja. Fikiranku kacau, lagi-lagi kacau dan kembali kacau. Kemudian. . . . BRUUGGG.
"Ufuk sayang, bangun sayang. Sadarlah. Ini ibu sayang. Ini ibu." samar-samar terdengar kalimat itu di telingaku. Aku merasa sangat lelah. Hanya sekedar untuk membuka mata dan mulut, sepertinya memerlukan tenaga ekstra. Mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Aku membuka mataku dan berkata pada ibu,
"Bu, apakah ini sel tahanan?"
"Ngomong apa kamu ini , Fuk? Kamu masih dirumah."